Sejarah Hotel Sandjaja Palembang

ERA 1980-an, saat tempat tinggal toko (ruko) mulai jadi alternatif dalam usaha konstruksi –sebelumnya, tidak demikian menarik karna keluasan lahan masih tetap mencukupi—di Palembang, banyak pengembang mengaplikasikan rencana 2 : 1, 3 : 1, atau 4 : 1. Berarti, pengembang tidaklah perlu beli lahan untuk membuat rukonya, namun membagi bangunan –hitungan pintu—dengan yang memiliki lahan. Siapakah orang yang mulai rencana usaha sama itu serta kapan dimulainya?

Saya pernah terperangah, waktu tahu kalau tokoh yang memulainya yaitu seseorang wanita, serta saatnya mulai 1950, saat belum juga satu dasawarsa kita merdeka. SIAPAKAH wanita itu? Dia bernama Tan Ho Nio atau Nellywati. Wanita kelahiran 2 Agustus 1919 ini adalah putri bungsu Tan Kim Lie, yang disebut salah seseorang entrepreneur konstruksi yang cukup punya pengaruh di Palembang pada paruh awal era ke-20.

Satu diantara karya sang bapak yaitu Markas CPM di lokasi Talangkerangga. Jika merunut histori karya ayahnya, yaitu lumrah jika wanita ini lalu tekuni usaha konstruksi. Semasa masih tetap gadis, Nelly umum menolong ibunya, Liem Tuan Nio, yang buat kue-kue untuk di jual ke daerah Uluan Palembang. Terkecuali kue, Liem Tuan Nio juga jual kecap serta bahan kain, melalu kakek Nelly. Sang kakek, Tan King Hien, adalah salah seseorang saudagar Palembang yang umum beli hasil bumi di lokasi Uluan serta jual beberapa barang keperluan pokok dan tekstil untuk daerah itu, dengan memakai kapal. Cukup umur, Nelly menikah dengan Ong Boen Cit, yang disebut satu diantara entrepreneur karet besar di Sumatera Selatan pada dekade.

Dia bahkan juga bukan sekedar memakai rakit curah, namun juga membuat gudang permanen di lokasi Sekanak. Sampai saat ini, bangunan gudang itu masih tetap ada serta di kenal jadi Gudang Buncit. Terlebih dulu, kita saksikan dulu latar belakang sosial ekonomi Palembang pada saat 1910-1940-an. Keresidenan Palembang memanglah populer jadi satu diantara daerah kuasa Hindia Belanda yang makmur karna karet. Pada th. 1915, export karet dari Palembang sekitaran 140 ton lateks. Tetapi, sekitaran th. 1926, export karet bertambah sampai 100 kali lipat (Peeters ; 1997 : 103).

Pada saat ini, kapal roda lambung adalah satu diantara fasilitas perlu dalam mata rantai perdagangan di Keresidenan Palembang. Dari lokasi Sungai 3-4 Ulu, rumahnya, Tan King Hien, mengatur bisnisnya. Berdasar pada catatan histori, pemukiman Cina di pedalaman –terkait erat dengan jalinan perdagangan—mulai dibuat mulai th. 1873. Lokasi pemukiman untuk perdagangan itu mencakup Tebingtinggi, Lahat, serta Muaradua (Peeters ; 1997 : 61).

Baru lalu, berkembang sebagian lokasi beda di selama aliran anak Sungai Musi. Kapal kincir atau seringkali dimaksud juga kapal roda lambung yang melayari aliran Sungai Lematang, Sungai Ogan, serta Sungai Komering jadi jalur lintas perdagangan lokasi Uluan serta Iliran dengan Palembang jadi pusat perdagangan. Pelayaran komersial yang mulai berjalan pada 1880-an itu, pada perubahan era dikerjakan paling tidak oleh enam belas kapal, yang terdiri atas enam kapal punya pedagang Palembang, serta sepuluh punya pedagang Cina (Peeters ; 1997 : 62-66). Salah nya ialah punya Tan King Hien. Perdagangan dengan kapal roda lambung alami kemerosotan pada dekade th. 1920-an. Ini bersamaan dengan pembangunan rel kereta api (KA) yang menghubungkan Palembang-Telukbetung, yang gagasan pembangunannya diawali sekitaran th. 1909.

Pembangunan rel KA ini ditujukan jadi usaha buka kesempatan penanaman modal asing di lokasi pedalaman. Meskipun, jika diliat dari keadaan konsorsium pedagang Eropa yang kalah berkompetisi dengan pedagang Cina serta Palembang pada saat itu, pembukaan rel ini adalah satu diantara kiat pemerintah kolonial untuk meminimalisir peranan pedagang Cina serta Palembang lewat jalur sungai. Pembangunan rel oleh Zuid Sumatra Staatsspoorwegen (ZSS) yang diawali th. 1912 itu lalu buka jalinan pada Palembang-Telukbetung, dengan cabang Prabumulih ke Muaraenim. Terjadi “revolusi” fasilitas angkutan, dari perahu serta gerobak ke mobil serta kereta api. Perdagangan dengan kapal roda lambung betul-betul lumpuh pada dekade 1930-an (Peeters ; 1997 : 133-135).

Menikah serta Berupaya Th. 1940, Ong yang sudah menduda karna istrinya, Cik Ayu, wafat dunia, berupaya mencari istri. Atas kehendak keluarga, Ong dijodohkan dengan Nelly. Mendiang Cik Ayu masih tetap termasuk jadi bibi Nelly. Waktu dibawa ke tempat tinggal Ong Boen Cit, Nelly di beri sangu uang sebesar Rp500, 00 oleh orangtuanya. Uang ini lalu nyatanya merubah kehidupan Nelly setelah itu, malah sesudah satu dasawarsa pernikahan mereka. Masuk dua th. hidup berumah tangga, tentara Dai Nippon menempati Indonesia, termasuk juga Palembang. Bangka, yang diduduki pada 13 Februari 1942, jadi “batu loncatan” untuk pasukan yang awal mulanya mengakui jadi “Saudara Tua” ini untuk menempati Palembang. Satu hari lalu, mendekati subuh, Jepang menerjunkan 600-700 personel paramiliternya di Palembang. Masa ini adalah satu diantara periode jelek dalam histori perekonomian serta sosial bangsa Indonesia. Krisis ekonomi yang berimbas pada kekurangan sandang serta pangan juga menempa lokasi Indonesia, termasuk juga Palembang. Pada saat ini juga, banyak warga yang jual apa sajakah harta yang dipunyainya supaya bisa beli makanan. Jual beli barang, terlebih benda bernilai sama perhiasan, dikerjakan lewat penghubung, yang di kenal jadi cengkau (Palembang : tukang ulo).

Awal mulanya, Nelly terpanggil untuk menolong serta memakai uang simpanannya untuk beli perhiasan yang di tawarkan padanya. Tetapi, makin beberapa orang yang datang padanya, hingga jadi “bisnis” yang dijalani sepanjang th. 1942, sampai Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945. Uang simpanan itu juga berkembang, serta setelah itu dimanfaatkannya untuk beli tanah serta bangunan toko di Jl. Tengkuruk (masa penjajahan namanya Schoolweg atau Jalan Sekolah). Sepuluh th. menikah, pasangan Ong-Nelly baru dikaruniai seseorang putri, Ong Tjen Tju dengan kata lain Yenny Ong, yang lahir pada 23 Juli 1950. Tetapi, kebahagiaan pasangan ini tidak berjalan lama. Sekitaran lima bln. lalu, 12 Desember 1950, Ong Boen Cit wafat dunia. Awalilah wanita ini berupaya, dengan semua kekuatannya. Modalnya, tanah serta bangunan yang sudah dibelinya semasa menikah plus dua bentuk perhiasan yang belum juga terjual oleh cengkau. Singel Parent SEBAGAI anak bungsu, bisa disebutkan Nelly begitu dekat dengan ayahnya. Hal semacam ini beresiko pada ketertarikan serta kekuatannya. Mulai sejak kecil, dia begitu tertarik pada beberapa hal yang terkait dengan konstruksi. Hal semacam ini berlainan dengan dua kakak perempuannya, Tan Hok Nio dengan kata lain Bandung Wati serta Tan Tjiang Nio dengan kata lain Noni.

Semasa kanak-kanak, Nelly sering di ajak ayahnya melihat-lihat bangunan yang dikerjakan sang bapak. Satu diantaranya, Markas CPM di Talangkerangga. Kesukaan pada konstruksi ditambah kekuatan usaha yang mengalir dari darah kakek serta ayahnya, buat Nelly mulai mereka-reka apa yang bisa diperbuatnya. Waktu itu, selama Jl. Jenderal Sudirman, belumlah ada gedung-gedung dalam ukuran besar dalam perspektif usaha. Nelly mulai lakukan pendekatan dengan yang memiliki tanah di selama tepian jalan, yang dulu di kenal jadi lokasi Talang Jawa Lama itu. Nelly lalu tawarkan rencana pembagian pada pihak pembangun serta yang memiliki tanah dengan system 2 : 1. Nyatanya, tawaran ini memperoleh sambutan yang begitu baik. Awalilah Nelly membuat gedung, terlebih pertokoan di selama Jl. Jenderal Sudirman. Nyatanya lalu, beberapa orang yang datang padanya, tawarkan tanah untuk dibuat dengan system untuk hasil, yang saat itu dinilai yang memiliki tanah begitu untungkan.

Toko Buku Sumber Djaja. Konstruksi serta Konstruksi KONSEP usaha konstruksi Nelly, dengan bendera NV Djaja Prima, selalu alami perkembangan. Bahkan juga, sesudah dia mengelola Hotel serta Restoran Sandjaja, usaha itu selalu jalan. Dia pernah membuat Gedung Bank Indonesia, Bank Rakyat Indonesia plus tiga unit tempat tinggal untuk karyawan bank itu, serta gedung Pengadilan Tinggi Palembang. Sampai pertengahan dekada 1950-an, bendera NV Djaja Prima selalu berkibar. Usaha konstruksi Nelly, dengan system untuk hasil 2 : 1, membuatnya makin di kenal serta diakui partner usaha. Dari sini juga, Nelly yang mengambil keputusan untuk tetaplah jadi orang-tua tunggal untuk Yenny Ong, mulai beli bangunan serta tanah.

Dua diantara asetnya, yaitu satu unit bangunan serta sebidang tanah di Jl. Kapten A. Rivai. Mendekati akhir th. 1950-an ini, Pemerintah baru buka akses jalan dari Boom Baru ke Jl. Merdeka, yang saat ini di kenal jadi Jl. Perintis Kemerdekaan, Jl. Veteran, serta Jl. Kapten A. Rivai. Tetapi, jalan itu baru berbentuk tanah yang dikeraskan. Berdasar pada peta, sampai th. 1950, ruas-ruas jalan itu belumlah ada. Nelly mempunyai dua bagian tanah di pinggir jalan yang tengah dalam step pembangunan itu. Ke-2 lahan ini terpisah oleh sebidang tanah sebagai tempat Penginapan Sindanglaya.

Di kenal jadi pelaku bisnis dengan NV Djaja Prima, yang beroperasi di sektor konstruksi sekalian supplier bahan bangunan, buat banyak pihak datang pada Nelly untuk merajut kerja sama. Mendekati akhir th. 1957, satu perusahaan menghubunginya untuk beli kantor. Dalam artian, NV Djaja Prima sediakan lahan serta bangunan. Kesepakatan juga di buat. Pembayaran dikerjakan dalam tiga termin sepanjang setahun. Pembangunan juga dikerjakan. Termin pertama jatuh tempo, tidak ada pembayaran. Termin ke-2 jatuh tempo, masih tetap belumlah ada pembayaran. Termin ke-3 jatuh tempo, orang serta perusahaan yang pesan malah menghilang. Waktu itu, bangunan kantor telah nyaris usai. Nelly juga memutar otak. Jika pembangunan kantor ini dilanjutkan, akan jadikan apa bangunannya? Ketika itu, dia mempunyai pemikiran yang cukup inovatif. Jika selama Jl. Tengkuruk, Jl. Jenderal Sudirman, Jl. Kolonel Atmo, serta Jl. Letkol Iskandar jadi lokasi pertokoan serta perdagangan, jalan yang baru di buka ini baiknya tidak diarahkan pada lokasi usaha yang sama.

Nelly juga mengambil keputusan untuk membuat hotel. Putar haluan, bangunan yang awal mulanya ditujukan untuk kantor itu selekasnya dirubah memiliki bentuk. Gedung kantor yang nyaris jadi itu dirubah bentuk serta konstruksinya. Tiga lantai, dengan 22 kamar. Hotel Djaja, cikal akan Hotel Sandjaja Palembang Penginapan yang lalu dinamakan Djaja itu lalu dioperasikan pada 17 Oktober 1958. Ketika yang berbarengan, Nelly juga membuat restoran di lahan yang berdekatan. Restoran ini lalu dinamakan San Djaja. Dalam bhs Mandarin, san bermakna tiga. Yang dimaksudnya tiga yaitu statusnya dalam keluarga, yang mempunyai dua saudara. Hingga, nama itu bisa mewakili mereka bertiga. Sedang jaya, sudah pasti merujuk pada kondisi senantiasa sukses, berhasil, atau hebat. Kata jaya juga seolah jadi lambang dari usahanya, dari mulai NV Djaja Prima, Toko Buku Sumber Djaja, Hotel Djaja, sampai Restoran San Djaja. Hotel serta restoran berikut yang lalu jadi Hotel Sandjaja, seperti yang kita kenal sekarang ini, sesudah dikerjakan sekian kali pengembangan. Inovatif TERKAIT usaha hotel, bisa dikata Nelly juga mempunyai perspektif pemikiran yang begitu maju pada eranya.

Awal dekade 1970-an Pemerintah mengaplikasikan kebijakan dalam Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Ketika itu, Nelly sudah beli tanah eks-Penginapan Sindanglaya, yang terdapat diantara dua gedung kepunyaannya. Di lahan yang awal mulanya dipunyai Tjo Sang berikut, Nelly berrencana membuat gedung hotel yang lebih representatif. Dalam pemikirannya, gedung itu mempunyai tujuh lantai dengan sarana internasional. Sekarang ini, putri tunggal Nelly, Yenny Ong, sudah dewasa serta ikut andil dalam manajemen. Atas nama PT Sandjaja, dia juga memajukan keinginan sarana PMDN, yang dalam hal semacam ini utang modalnya dikelola oleh Bappindo. Lewat surat yang di tandatangani pada 10 November 1972, Nelly juga memberi argumen kalau dengan gagasan perubahan skala hotel, jadi Sandjaja jadi hotel pioner di bagian kepariwisataan di Palembang.

Pembangunan serta pelebaran Hotel Sandjaja berlanjut. Sampai pada akhirnya, hotel itu mempunyai 180 kamar, dengan sebagian kelas. Eks-Restoran San Djaja jadikan bangunan sayap (wing). Sedang eks-Hotel Djaja jadikan Balairung yang diberi nama Srikandi. Hari bersejarah untuk Nelly, sesudah perjuangan panjang mulai sejak 1958, berjalan pada 17 Oktober 1980. Hari itu, Hotel Internasional Sandjaja diresmikan, diikuti dengan pembukaan selubung prasasti peresmian, yang di tandatangani Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Propinsi Sumatera Selatan, Brigjen H. Sainan Sagiman. Serta, 17 Oktober jadi tanggal yang begitu perlu untuk Nelly serta manajemen Hotel Sandjaja. Pada 17 Oktober 1958, Hotel Djaja dioperasikan.

Pada 17 Oktober 1959, Hotel Djaja diresmikan. Pada 17 Oktober 1980, penambahan status hotel ke skala internasional dengan resmi diaktifkan. Pembukaan selubung prasasti peresmian penggunaan gedung Hotel Sandjaja. Semangat beberapa pengelola Hotel Sandjaja makin menyala. Penggunaan gedung baru berlantai tujuh itu jadi seperti pemberi tanda untuk lahirnya semangat baru untuk lebih bergiat memajukan usaha, tidak cuma di bagian penginapan tetapi juga bagian kepariwisataan.

Usaha keras Nelly, di dukung semuanya staf hotel berbuah manis, dua th. lalu. Hotel Sandjaja memperoleh predikat Hotel Berbintang Tiga pada 3 April 1982. Penyerahan sertifikat dikerjakan Gubernur H. Sainan Sagiman, disaksikan Direktur Bina Service Pariwisata Direktorat Jenderal Pariwisata RI. Hotel Sandjaja memperoleh predikat bintang tiga dengan Hotel Swarnadwipa Palembang. Ketika yang berbarengan, Sainan Sagiman juga menyerahkan Sertifikat Hotel Bintang Satu untuk Hotel Sari serta Puri Indah di Palembang, Martani di Belitung, serta Lintas Sumatra di Lubuklinggau. Janji Nelly untuk jadikan hotelnya jadi penggerak usaha di bagian kepariwisataan seperti terdaftar pada surat permintaan sarana PMDN pada Menteri Keuangan RI sepuluh th. terlebih dulu, 10 November 1972, hari itu dapat dibuktikan telah. Sainan Sagiman, dalam kata sambutannya, menyebutkan kalau penyerahan sertifikat hotel berbintang itu adalah pertama kali di Sumatera Selatan. Hal semacam ini, tuturnya, adalah pemberi tanda ada perkembangan dalam pengembangan kepariwisataan di daerah ini. Dia juga menyebutkan kalau prospek kepariwisataan di Sumatera Selatan butuh diperluas, karna adalah satu diantara sumber devisa negara, lapangan penyerap tenaga kerja, serta fasilitas pengembangan budaya bangsa. Belajar dari histori hidup seseorang Nellywati, saya begitu bangga pada Palembang serta beberapa perempuannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *